Monopoli di Satu Sisi
Dahulu mungkin kita tidak pernah membayangkan betapa PERUMKA atau sekarang PTKAI harus bersaing dengan pesawat terbang ataupun Bis umum dalam tarik menarik penumpang. PT KAI adalah regulator kereta satu – satunya di Indonesia dan menjadi perusahaan besar karena sistem monopolistik yang di lindungi oleh pemerintah. Sekarang, siapa yang mau menaiki kereta apabila pesawat menawarkan tiket murah dan kecepatan atau Bis yang sudah menggunakan pendekatan komunitas untuk menjaring penumpangnya. Suka tidak suka sekarang persaingan antar moda transportasi sudah seperti balapan antar bis di ibukota. Tidak ada pakem yang jelas di sini karena kapitalisme dan liberalisme adalah dewa dalam persaingan bisnis transportasi modern. Darat , laut , udara sudah bersaing tanpa batasan.
Pertempuran Sosilisme Vs Kantong
Sistem monopoli dengan jargon sosialisme yang tercantum dalam Pancasila tampaknya di tafsirkan sepihak oleh para pemimpin negri dahulu, dan menciptakan dewa – dewa kecil yang memonopoli perdagangan dan ekonomi nasional dengan jargon BUMN dan kepentingan masyarakat luas. Kini setelah pintu liberalisme di buka , pintu keterbukaan informasi di buang kuncinya. Kita mulai melihat betapa ternyata BUMN negri ini di kelola oleh orang – orang yang salah, orang – orang yang tidak mempunyai visi dan hanya menjadi demang di negri sendiri dengan menyedot darah saudara sendiri.
Saya tidak menunjuk dan menghakimi, tetapi dengan persaingan ketat , dengan keterbukaan informasi dan keterbukaan pasar , saya yakinkan para pemimpin negri bahwa PT KAI bukanlah satu – satunya BUMN yang mulai ngos-ngosan dalam persaingan bisnis negri ini. Kita bisa melihat bagaimana Garuda dihempas krisis beberapa tahun yang lalu, Telkom yang sudah menggunakan “pendekatan” banyaknya karyawan untuk menutup jalan Indosat. Merpati yang sudah mulai di tinggalkan karena prestasi delaynya, PPD yang mulai pusing menjual aset dan banyak BUMN plat merah lainnya yang lahannya mulai di bebaskan mulai terlihat linglung dan syok di zaman baru ini.
Rakyat Untung atau Rugi
Saat ini yang di untungkan dengan keadaan sekaran adalah end customer ( dalam bahasa bisnis ) dan rakyat ( dalan konteks Negara ) . Dengan tarif murah para customer baru negri ini bisa menikmati pelayanan pesawat terbang yang tidak bisa mereka nikmati ketika Garuda menjadi satu – satunya maskapai. Kita sekarang bebas memilih dengan kantong kita , apabila kereta mahal yah naik pesawat, Apabila kapal Pelni jelek, yah mending naik bis malam atau naik maskapai yang menawarkan harga miring. Mau telpon murah cari operator CDMA yang menawarkan harga murah, Mau SLJJ lihat tariff siapa yang lebih menguntungkan , mau cari bensin bagus dan berkualias ratusan SPBU asing telah ada di hadapan kita. Tidak ada batas, tidak ada monopoli, dan tidak ada direksi BUMN yang duduk-duduk manis menunggu gaji mereka yang puluhan juta tanpa berfikir. Negri ini semakin sehat untuk rakyatnya. Dan mungkin kita sekarang bias menertawakan iklan salah satu BUMN yang mulai frustasi dalam bersaing “ BELI SEKARANG ATAU LO RUGI”. Frustasi atau ajakan . . . ? Entahlah. .











