Soeharto Atau B.M. Diah Layak Jadi Pahlawan ?
Oleh : Dasman Djamaluddin*
Di tengah-tengah hiruk pikuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengusung Soeharto sebagai tokoh yang berjasa buat bangsa dan negara melalui iklannya di televisi baru-baru ini, saya sangat tertarik menyaksikan acara debat di TVOne semalam (Rabu, 19 November 2008) pukul 19.35 WIB.
Menariknya karena pada penampilan sessi kedua, sejarawan Anhar Gonggong tampil dengan meyakinkan. Beliau bisa mematahkan argumen-argumen yang diajukan oleh wakil-wakil dari PKS. Bahkan boleh dikatakan penampilan Anhar Gonggong kali ini sangat meyakinkan dan menunjukkan bahwa beliau benar-benar seorang sejarawan. Merasa tersudut, para wakil dari PKS malah menyalahkan Presiden RI Pertama Soekarno dalam beberapa kasus, tetapi Anhar Gonggong mampu menjajikan data-data akurat. Ini menunjukkan bahwa PKS menurut saya, sesuai dengan apa yang dikatakan Anhar Gonggong, mengangkat nama Soeharto hanya sebagai kepentingan sesaat yaitu menjelang pemilihan umum 2009. Seandainya saja masalah ini diangkat setelah Pemilihan Umum, persoalannya mungkin menjadi lain.
Di samping itu, sudah tentu saya boleh juga mengkritik Anhar Gonggong ketika bersama saya sebagai pembicara dalam sebuah seminar Nasional dan Diskusi Interaktif "Implikasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar" di Ruang Auditorium Universitas YARSI, Jakarta, Selasa, 25 Maret 2008 lalu. Pada saat ini Anhar Gonggong bersama dengan Atmadji Sumarkidjo, yang pada waktu itu Wakil Pemred RCTI dan penulis buku "Jend.M.Jusuf Panglima Para Tentara," beranggapan bahwa sejarah Supersemar adalah sejarah masa lalu, tidak perlu dipermasalahkan. Saya pada waktu itu terkejut, karena beberapa bulan sebelumnya ketika melakukan diskusi Supersemar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) di mana saya menjadi moderatornya, Anhar Gonggong masih sepakat bahwa Supersemar asli masih patut dipertanyakan demi generasi penerus.
Oleh karena itu di dalam Seminar Nasional tersebut, hanya saya sendiri yang masih mempertahankan bahwa Supersemar Asli Patut Ditemukan demi generasi penerus bangsa. Pada waktu ini saya juga menegaskan bahwa Soeharto selama 32 tahun telah membuat kekeliruan, sama dengan pendapat Anhar Gonggong ketika berdebat dengan wakil-wakil dari PKS di TVOne malam tadi:
Pertama, di dalam hal membubarkan sebuah partai, yaitu PKI, Soeharto tidak mengacu kepada penetapan Presiden Republik Indonesia No.7 tahun 1959 yang masih berlaku saat itu. Di mana di dalam pasal 9 ayat 1 nya dinyatakan bahwa:
Presiden, sesudah mendengar MA dapat melarang dan/atau membubarkan partai yang:
1. Bertentangan dengan azas dan tujuan negara.
2.Programnya bertentangan dengan azas dan tujuan negara.
3. Dan melakukan pemberontakan.
4. Tidak memenuhi sysrat-syarat lain yang ditemukan.
Dengan ketentuan ini jelaslah bahwa tindakan Soeharto membubarkan PKI telah menyalahi aturan hukum. Hanya dengan berbekal Supersemar, Soeharto yang mengatasnamakan Presiden Soekarno dapat membubarkan sebuah partai, yairu PKI yang pada waktu itu disahkan keberadaannya oleh negara.
Kedua, telah terjadi penangkapan-penangkapan tanpa prosedur, termasuk penangkapan-penangkapan di jajaran eksekutif (para menteri Kabinet Dwikora yang tanpa sepengetahuan Bung Karno) dan anggota Legislatif, sehingga memuluskan jalan bagi Soeharto mengemukakan gagasan-gagasannya.
Ketiga, mengutip buku Robert Edward Elson, Suharto sebuah Biografi Politik halaman 298 - 299, telah terjadi penangkapan-penangkapan anggota PKI dan organisasi yang terkait, di mana sampai Oktober 1965, sudah 1.333 orang di wilayah Jakarta dengan alasan terlibat PKI.
Dari beberapa kreteria ini saya menyatakan bahwa argumentasi Anhar Gonggong masuk akal dan betul-betul berbicara sebagai ilmuwan pada debat dalam acara TVOne semalam. Bahkan betul juga beliau mengatakan, bila mau mengadakan rekonsiliasi, maka tidak hanya tokoh-tokoh tertentu saja dimunculkan, tetapi semua pihak termasuk korban-korban pembunuhan anggota PKI, korban Tragedi Semanggi, korban Tanjung Priok dan sebagainya. Hanya yang sangat saya sayangkan, kenapa Anhar Gonggong tidak melakukan hal sama ketika berbicara di dalam Seminar Nasional di Universitas YARSI ? Bukankah sebagai ilmuwan, tugasnya adalah membaktikan hidupnya untuk berpikir demi kepentingan umum dan menafikan kepentingan pribadinya ?
Saya berpikir, apabila pada saat bersamaan ingin menokohkan Soeharto sebagai orang berjasa kepada bangsa dan negara, apa tidak sebaiknya Tokoh Pers Burhanuddin Mohammad Diah (B.M.Diah) lebih patut dipertimbangkan sebagai Pahlawan Nasional ? Sebagai tokoh pers, yang konsisten dengan sikapnya, B.M.Diah boleh dikatakan salah seorang putera terbaik bangsa.
Menariknya karena pada penampilan sessi kedua, sejarawan Anhar Gonggong tampil dengan meyakinkan. Beliau bisa mematahkan argumen-argumen yang diajukan oleh wakil-wakil dari PKS. Bahkan boleh dikatakan penampilan Anhar Gonggong kali ini sangat meyakinkan dan menunjukkan bahwa beliau benar-benar seorang sejarawan. Merasa tersudut, para wakil dari PKS malah menyalahkan Presiden RI Pertama Soekarno dalam beberapa kasus, tetapi Anhar Gonggong mampu menjajikan data-data akurat. Ini menunjukkan bahwa PKS menurut saya, sesuai dengan apa yang dikatakan Anhar Gonggong, mengangkat nama Soeharto hanya sebagai kepentingan sesaat yaitu menjelang pemilihan umum 2009. Seandainya saja masalah ini diangkat setelah Pemilihan Umum, persoalannya mungkin menjadi lain.
Di samping itu, sudah tentu saya boleh juga mengkritik Anhar Gonggong ketika bersama saya sebagai pembicara dalam sebuah seminar Nasional dan Diskusi Interaktif "Implikasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar" di Ruang Auditorium Universitas YARSI, Jakarta, Selasa, 25 Maret 2008 lalu. Pada saat ini Anhar Gonggong bersama dengan Atmadji Sumarkidjo, yang pada waktu itu Wakil Pemred RCTI dan penulis buku "Jend.M.Jusuf Panglima Para Tentara," beranggapan bahwa sejarah Supersemar adalah sejarah masa lalu, tidak perlu dipermasalahkan. Saya pada waktu itu terkejut, karena beberapa bulan sebelumnya ketika melakukan diskusi Supersemar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) di mana saya menjadi moderatornya, Anhar Gonggong masih sepakat bahwa Supersemar asli masih patut dipertanyakan demi generasi penerus.
Oleh karena itu di dalam Seminar Nasional tersebut, hanya saya sendiri yang masih mempertahankan bahwa Supersemar Asli Patut Ditemukan demi generasi penerus bangsa. Pada waktu ini saya juga menegaskan bahwa Soeharto selama 32 tahun telah membuat kekeliruan, sama dengan pendapat Anhar Gonggong ketika berdebat dengan wakil-wakil dari PKS di TVOne malam tadi:
Pertama, di dalam hal membubarkan sebuah partai, yaitu PKI, Soeharto tidak mengacu kepada penetapan Presiden Republik Indonesia No.7 tahun 1959 yang masih berlaku saat itu. Di mana di dalam pasal 9 ayat 1 nya dinyatakan bahwa:
Presiden, sesudah mendengar MA dapat melarang dan/atau membubarkan partai yang:
1. Bertentangan dengan azas dan tujuan negara.
2.Programnya bertentangan dengan azas dan tujuan negara.
3. Dan melakukan pemberontakan.
4. Tidak memenuhi sysrat-syarat lain yang ditemukan.
Dengan ketentuan ini jelaslah bahwa tindakan Soeharto membubarkan PKI telah menyalahi aturan hukum. Hanya dengan berbekal Supersemar, Soeharto yang mengatasnamakan Presiden Soekarno dapat membubarkan sebuah partai, yairu PKI yang pada waktu itu disahkan keberadaannya oleh negara.
Kedua, telah terjadi penangkapan-penangkapan tanpa prosedur, termasuk penangkapan-penangkapan di jajaran eksekutif (para menteri Kabinet Dwikora yang tanpa sepengetahuan Bung Karno) dan anggota Legislatif, sehingga memuluskan jalan bagi Soeharto mengemukakan gagasan-gagasannya.
Ketiga, mengutip buku Robert Edward Elson, Suharto sebuah Biografi Politik halaman 298 - 299, telah terjadi penangkapan-penangkapan anggota PKI dan organisasi yang terkait, di mana sampai Oktober 1965, sudah 1.333 orang di wilayah Jakarta dengan alasan terlibat PKI.
Dari beberapa kreteria ini saya menyatakan bahwa argumentasi Anhar Gonggong masuk akal dan betul-betul berbicara sebagai ilmuwan pada debat dalam acara TVOne semalam. Bahkan betul juga beliau mengatakan, bila mau mengadakan rekonsiliasi, maka tidak hanya tokoh-tokoh tertentu saja dimunculkan, tetapi semua pihak termasuk korban-korban pembunuhan anggota PKI, korban Tragedi Semanggi, korban Tanjung Priok dan sebagainya. Hanya yang sangat saya sayangkan, kenapa Anhar Gonggong tidak melakukan hal sama ketika berbicara di dalam Seminar Nasional di Universitas YARSI ? Bukankah sebagai ilmuwan, tugasnya adalah membaktikan hidupnya untuk berpikir demi kepentingan umum dan menafikan kepentingan pribadinya ?
Saya berpikir, apabila pada saat bersamaan ingin menokohkan Soeharto sebagai orang berjasa kepada bangsa dan negara, apa tidak sebaiknya Tokoh Pers Burhanuddin Mohammad Diah (B.M.Diah) lebih patut dipertimbangkan sebagai Pahlawan Nasional ? Sebagai tokoh pers, yang konsisten dengan sikapnya, B.M.Diah boleh dikatakan salah seorang putera terbaik bangsa.
Â
*Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Sejarah Supersemar/Penulis Buku: "Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar.











