Duaberita - Infertilitas Sebagai Sesuatu Untuk Difahami oleh kalangan awam sebagai kemandulan. Namun sesungguhnya secara definisi, infertilitas merupakan tidak terjadinya kehamilan dalam waktu 2 tahun, setelah pernikahan meskipun suami-isteri melakukan hubungan seksual secara rutin 3-4 kali seminggu.
Demikian dr. Sofani dsog, dari Nusantara Medical Center memaparkan. Ditambahkan pula, hal ini biasanya dialami wanita berusia subur mulai enam belas tahun sampai tiga puluh lima tahun. Kasus ini bisa disebut sterilitas dan infertilitas yang bukan saja berasal dari wanita tetapi juga pria. Kerap kali masyarakat hanya memandang bahwa seorang wanita mandul padahal sterilitas sebenarnya diderita pihak pria sekitar 30% dari pasangan infertil alias tidak subur disebabkan oleh suami, sementara 20% disebabkan oleh kelainan kedua pihak. Dan faktor dari suami berperan penting pada sekitar 50% pasangan tidak subur. Gaya hidup atau life style bisa pula memicu infertilitas, seperti merokok, alcohol, over weight, pekerjaan dari suami, penggunaan obat-obatan dan pakaian dalam. Pada wanita penyebab infertilitas adalah: kegagalan ovulasi, kelainan hormone, kelainan anatomi saluran telur, radang panggul, tumor, endometriosis, penyakit kelamin, tuberkolosa dan beberapa penyakit lainnya.
Sementara penyebab ketidak suburan pada laki-laki antara lain: Berkurangnya jumlah produksi sperma, sumbatan pada sistem pengeluaran sperma, terbentuknya antibodi terhadap sperma, kerusakan testis, gangguan produksi hormon dan terjadinya pembesaran pembuluh darah di testis. Keadaan penyebab infertilitas tersebut dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan riwayat medis dan fisik kemudian dilanjutkan dengan cek laboratorium.
Â
Banyak keterbatasan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut masalah kehamilan. Masalah menjadi rumit apabila pasien bertambah usia dan diatas 40 tahun, dilema antara kehamilan dan kecacatan yang mungkin saja terjadi. Ketenangan, usaha, kepasrahan pada sang pencipta serta doa merupakan bagian dari upaya harus dilakukan pasien dan dokternya. (/Riri Wijaya)