Home Artikel Dua Olahraga Can We Possible to Make a (better) High Quality Competitive Football in Our League (Indonesia)?

Can We Possible to Make a (better) High Quality Competitive Football in Our League (Indonesia)?


Duaberita - Namun judul tersebut juga menyiratkan makna, bahwa ternyata ada sebuah impian dan cita-cita besar yang hendak dicapai. Ada prestasi yang hendak diukur bersama dari sebuah permainan bernama sepakbola yang menyatukan jutaan manusia di jagat raya ini. Bahwa judul diatas juga layak diusung sebagai mainstream berpikir kita bersama untuk menatap impian yang senada. Namun kita pun harus sadar bahwa gagasan hanyalah sekedar ide dan angan-angan belaka jika tidak (mampu) diwujudkan. Tergodakah anda untuk bersama menatap impian itu agar dapat bersama kita mencapai batas kesempurnaan tersebut. Jika anda dan kita semua siap, maka yakinlah bahwa kita akan menatap sebuah era baru sepakbola Indonesia.
 

“System yang baik menciptakan orang yang baik,
ataukah orang yang baik akan menciptakan system yang baik?”

Sekilas Sejarah Sepakbola Indonesia

Perkembangan sepakbola saat ini sudah mencapai tahap yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh sebagian besar penduduk dunia. Mungkin tidak banyak orang yang mampu meramalkan bahwa sepakbola mampu menyihir dunia melalui pesona dan daya tarik yang dimiliki oleh olahraga ini. Perkembangan sepakbola dunia sudah menjalar ke seluruh nadi bagian bumi ini. Eropa dengan berbagai Liga dan Kompetisi Domestiknya menjadi daya tarik tersendiri sebagai kompetisi olahraga dengan hegemoni terbesar di dunia. Kawasan Amerika membuktikan walaupun kompetisi domestiknya tidaklah sebesar dan semegah kompetisi Eropa namun siapa yang tidak mengenal sosok legenda seperti Diego Armando Maradona, Pele, Mario Kempes, Socrates, dll. Bahkan ketokohan para generasi saat ini seperti Ronaldo, Kaka, Ronaldinho dan Lionel Messi mulai dibandingkan dengan para pendahulu mereka.

Mereka menjadi sosok legendaris dan menempati posisi tersendiri dalam sejarah peradaban sepakbola sekaligus mengisi relung hati manusia melalui penampilan dan aksi mereka di lapangan. Benua Afrika yang dianggap sebagai belahan ‘dunia ketiga’ pun tidak lepas dari perjalanan sang kulit bundar, kerasnya kehidupan di Afrika seolah menempa sumber daya manusia di kawasan ini. Etos kerja, semangat yang tidak kenal lelah dan pantang menyerah direfleksikan melalui permainan lugas dan dinamis dalam mengolah sang kulit bundar di lapangan, ditunjang dengan stamina dan fisik yang prima menjadikan pemain-pemain sepakbola asal benua hitam ini selalu ada dan hadir (nyaris) di setiap klub dunia.

Benua Asia dan Australia pun tidak tertinggal, benua asia walaupun benua terbesar dan mungkin terpadat penduduknya di bumi ini menjadikan kawasan ini mencapai rangking teratas, namun jika berbicara tentang tradisi sepakbola yang kuat, Asia belumlah dapat dibandingkan dengan benua eropa dan amerika latin. Dalam dekade terakhir ini Asia mulai menapaki jalan untuk tidak kalah dengan eropa dan amerika latin. Sebuah langkah maju dan berani namun bukan sekedar omong kosong belaka kiranya.

Melihat perkembangan sepakbola dunia yang terjadi saat ini, sangat terasa betapa sepakbola kita (Indonesia) telah tertinggal sangat jauh. Bahkan hal ini disampaikan langsung oleh Bernard Schumm saat lawatannya ke Indonesia beberapa waktu lalu, dia mengatakan bahwa ‘sepakbola di Indonesia sudah tertinggal 20 tahun’. Sudah sejauh itukah ketertinggalan kita dalam hal pemahaman tentang sepakbola? Sejak diperkenalkan oleh seorang bernama Ir. Suratin pada tahun 1930, memang perkambangan sepakbola di Indonesia berjalan amat lambat. Sebagian opini malah menyebutkan bahwa semakin memburuk dari hari ke hari.

Banyak dari kita yang mungkin tahu atau bahkan tidak tahu bahwa ternyata ketika Ir. Suratin mendirikan PSSI pada tahun 1930 bukanlah sekedar hobi atau kesenangannya terhadap permainan sepakbola belaka. Namun ada sebuah misi yang diusung oleh Sang Insinyur, setelah sekian lama ia akhirnya memahami bahwa daya magis sepakbola ternyata mampu menyatukan masyarakat, mempersatukan jiwa dan raga rakyat Indonesia untuk bersatu melawan penjajah. Jadilah PSSI berdiri sebagai sebuah organisasi/wadah sebagai selimut agar tidak dibredel oleh penjajah/kompeni. PSSI sebagai sebuah alat perjuangan dan sepakbola adalah alat kepentingan.

Cita-cita Ir. Suratin akhirnya terwujud, begitu banyaknya perserikatan yang ada menciptakan terbangunnya kesadaran akan pentingnya sebuah Bangsa Indonesia yang satu. Itulah kemudian yang menjadi klaim ketika akhirnya Indonesia merdeka 15 tahun kemudian tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pasca proklamasi kemerdekaan, kompetisi sepakbola yang bertaraf nasional mulai digulirkan. Hal ini sekaligus untuk memperkokoh semangat persatuan yang telah terbentuk. Kompetisi sepakbola bertaraf nasional sejak kemerdekaan 1945 hingga saat ini dimana era globalisasi lahir dan berkembang, kompetisi sepakbola nasional terus bergulir, walaupun sempat terhenti di kurun waktu tertentu namun itu tidaklah vakum terlalu lama. Sepakbola sekali lagi menjadi sebuah klaim, bahwa kompetisi si kulit bundar ini menjadi kompetisi olahraga yang berskala nasional, melainkan juga tempat penyelenggaraannya. Liga Indonesia yang secara resmi telah berumur 13 tahun –walaupun terus bergonta-ganti nama (Liga Dunhil,Liga Kansas,Liga Bank Mandiri, Liga Djarum)- seolah memberikan bukti eksistensi sepakbola di Indonesia kefanatikan khalayak akan sepakbola bukanlah isapan jempol, selebihnya kita tidak memiliki lagi kompetisi olahraga yang mampu bersaing dengan sepakbola.

Bulutangkis yang telah memberikan nama harum bagi bangsa dan Negara Indonesia di pentas internasional telah menjadi salah satu cabang olahraga yang menjadi kebanggaan bangsa ini, namun demikian cabang olahraga ini pun tidak memiliki system kompetisi yang berputar secara penuh sepanjang tahun di banyak kota di seluruh Indonesia. Inilah kiranya yang menyebabkan timbulnya kontradiksi, Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam sebuah kesempatan membuka Munas PSSI di Makassar beberapa waktu lalu menceritakan pengalamannya ketika ditanya oleh salah satu media internasional, ‘apa olahraga terfavorit di Indonesia?’, dengan lugas Jusuf Kalla menjawab ‘sepakbola’. Pertanyaan kemudian berlanjut dari sang wartawan ‘apa prestasinya?’, sang Wakil Presiden pun terdiam.

Ketika sebuah cabang olahraga tertentu begitu diminati dan menjadi terfavorit, idealnya tentu berbanding lurus dengan prestasi. Namun tidak demikian halnya di Indonesia. Hal senada juga dialami cabang olahraga bulutangkis, roda kompetisi yang tidak penuh bergulir setiap tahun tidak menjadikan cabang olahraga ini tidak berprestasi, namun malah sebaliknya sejumlah nama bintang besar lahir berikut prestasi telah diukir melalui cabang olahraga ini.

Tidak mau kalahnya sepakbola dari bulutangkis membuat visi PSSI bergerak satu langkah maju, sepakbola bukan lagi hanya sekedar alat kepentingan namun harus bisa berperan untuk mengangkat harkat martabat bangsa dan Negara. Namun hingga kini pun dengan visi tersebut tidak mampu mengangkat prestasi sepakbola kita bahkan di tingkat kawasan Asia Tenggara saat ini. Kita tidak lagi mudah mengalahkan Singapura, Vietnam dan Myanmar, bahkan selalu sulit untuk mengalahkan Thailand.

Sementara di belahan bumi eropa orang sudah menikmati glamournya suasana kompetisi sepakbola, sepakbola adalah industry, sepakbola adalah bisnis baru yang sangat megah dan menguntungkan. Di Amerika latin walaupun tidak semegah kompetisi eropa namun bintang-bintang muda terus dicetak dari wilayah ini. Pabrik atau pusat produksi pemain sepakbola layak disematkan bagi benua ini. Jepang dan Korea Selatan membuat mata pecinta bola dunia menjadi terbuka ketika keduanya secara tidak terduga mampu bergerak jauh pada Piala Dunia 2002, hasilnya beberapa pemain tim Nasional kedua negeri timur asia itu mulai menapak kompetisi sepakbola eropa. Di sisi lain, Indonesia dengan visinya ‘sepakbola sebagai alat perjuangan dan alat pemersatu bangsa’, seakan terdengar seperti isapan jempol belaka. Slogan yang kental dengan aroma politis tersebut seolah ingin memberi bukti bahwa Indonesia telah tertinggal jauh dalam memaknai permainan sepakbola ini baik dalam hal filosofi makro dan mikro sepakbola, manajemen industry sepakbola, dll.

Paradigma dan Mainstream Berpikir

Mungkinkah terjadi salah landasan berpikir dalam menentukan arah perkembangan sepakbola di Indonesia!?? Saya beranggapan sah-sah saja memang sesuatu dijadikan sebagai klaim, termasuk ketika Ir. Suratin mendirikan PSSI bukan sekedar menjadi organisasi sepakbola namun juga sebagai alat perjuanganan untuk mengusir penjajah. Bandingkan dengan sepakbola eropa yang menganut filosofi bahwa sepakbola bukanlah sekedar permainan dengan durasi 90 menit, namun sebagai industry bisnis terbesar di dunia. Hasilnya kompetisi Liga Inggris menjadi contoh mega proyek perputaran bisnis olahraga terbesar di dunia. Amerika Latin tetap menganut sepakbola adalah seni, dan seni adalah keindahan. Walaupun kini ada beberapa Negara Amerika Latin yang lebih mengusung bahwa kemenangan lebih prioritas dibandingkan sekedar seni mengolah bola di lapangan. Masing-masing pihak sah-sah saja untuk mengklaim sepakbola untuk tujuan tertentu, namun sekali lagi keuntungan dan kebaikan dari masing-masing filosofi diuji oleh waktu dan keberhasilan dalam tahap implementasi.

Saat Ir. Suratin mendeklarasikan idenya pada tahun 1930 menjadi sangat relevan bahwa PSSI didirikan untuk menyatukan rakyat. Mengingat kondisi zaman tersebut memang tak lekang dari para penjajah, pasca kemerdekaan mungkin masih berkesinambungan. Namun saat globalisasi mulai melanda dunia, Indonesia tak luput dari arus besar tersebut, filosofi bahwa sepakbola sebagai alat pemersatu semakin lama semakin menjauh ketika peradaban terus tumbuh, berjalan, dan berkembang.

Saat globalisasi mulai menguasai sendi-sendi kehidupan manusia, seketika itu pula fenomena kehidupan ekonomi menjadi berubah. Dunia diatur oleh sebuah system ekonomi besar yang berorientasi keuntungan sebesar-besarnya dengan menekan kerugian yang seminimalis mungkin. Tak ada satu pun yang luput dari arus besar globalisasi, termasuk juga sepakbola. Yang dulu mungkin hanya sekedar permainan rakyat untuk mengisi waktu luang, dan mengisi waktu istirahat bagi para kelasi-kelasi Inggris saat ini mulai berubah orientasi. Mungkin pada tahun 1930 masyarakat eropa juga tidak pernah mengira bahwa sepakbola di eropa akan berkembang sedemikian rupa. Banyaknya penggemar permainan ini seolah menjadi potensi bisnis yang amat sayang untuk dilewatkan untuk mengeruk keuntungan materi. Hasilnya dapat kita saksikan saat ini, liga Inggris membuka mata dunia bahwa sepakbola adalah bisnis besar bahkan mega bisnis. Tak ayal banyak konglomerat dunia yang bersedia menghabiskan uangnya untuk berinvestasi di Britania Raya ini. Mulai dari taipan Rusia hingga mantan penguasa Thailand. Bahkan perusahaan penerbangan Fly Emirates berani membuang uang untuk membangun stadion megah bagi klub asal London Arsenal dengan kapasitas hampir 90.000 penonton, dengan kapasitas stadion ini Arsenal mendapatkan jumlah pemasukan tiket yang cukup melonjak dari tahun-tahun sebelumnya ketika mereka masih bermarkas di Higbury. Itu baru dari pendapatan tiket penonton, belum dari penjualan marchendise dan hak siar Liga Inggris. Dengan menganut filosofi bahwa sepakbola adalah industry bisnis, membuat seluruh entitas sepakbola menjadi semakin rajin dan ulet untuk meng-improve klub dan manajemennya. Sebab uang tidak akan datang jika prestasi tak kunjung tiba. Uang juga tidak akan dapat berkembang dan bertambah jika prasarana, sarana serta services terhadap penggemar tidak memadai. Mungkin fenomena / filosofi sepakbola industry adalah yang paling mendekati arus besar globalisasi yang memang trah lahirnya merupakan basis orientasi kekuasaan ekonomi.

Kita mencoba menapak tilas kondisi pada tahun 1930 di dunia, pada saat-saat tersebut isu tentang kemerdekaan dibelahan dunia manapun adalah keniscayaan. Bisa jadi baik di tanah Inggris maupun di Argentina serta di belahan bumi manapun pemikiran seperti Ir. Suratin juga tumbuh dan berkembang disana. Tidak salah jika kemudian sepakbola memang menjadi alat pemersatu dan alat kepentingan tertentu. Bahkan hingga saat ini sepakbola berhasil mempersatukan manusia dari isu rasial dan juga masyarakat borjuis dan proletar. Kita dapat saksikan di Stadion Stamford Bridge markas Chelsea, stadion penuh dipadati mulai dari para eksekutif periklanan sampai dengan tukang sapu jalanan, sebuah fenomena yang dapat membuat bumi gonjang-ganjing dalam sejarah Inggris Raya (meminjam istilah Franklin Foer).

Inggris menjadi role model untuk filosofi sepakbola sebagai industry, amerika latin tetap pada hakekatnya bahwa sepakbola ada seni permainan yang indah. Asia berada dalam tahap metamorphosis bagi sebagian Negara-negara di kawasan ini, termasuk Indonesia di dalamnya. Hingga saat ini tahun 2007 Indonesia dengan PSSI-nya tetap berada dalam tahap filosofi sepakbola sebagai alat perjuangan. Namun makna yang terkandung ‘sebagai alat perjuangan’ ini yang kadang sumir terdengar bagi masyarakat awam. Jika berbicara tentang kemerdekaan, maka kondisinya sudah tidak relevan, secara de facto Indonesia telah merdeka pada tahun 1945. Isu bahwa sepakbola sebagai alat pemersatu menjadi tidak maksimal lagi, bahkan cenderung tumpul.

Memang benar dalam beberapa fenomena ruang dan waktu di beberapa belahan dunia termasuk Indonesia, sepakbola dapat mempersatukan rakyat, mempersatukan penguasa dan rakyatnya. Menghilangkan perbedaan kelas social dan rasial. Namun dengan sedikitnya lapangan sepakbola di Negara ini, siapakah yang dapat bermain di lapangan bola dengan standar kualitas yang memang layak guna dan layak pakai? Sudah tentu jawabannya adalah yang sanggup membayar uang sewa lapangan. Yang tidak mampu alias si kaum proletar hanya dapat bermain di lapangan yang ala kadarnya, bahkan tanpa rumput. Ada juga yang mengatakan bahwa lapangan di Indonesia multi fungsi, musim kemarau menjadi lapangan bola, musim hujan menjadi tambak ikan, karena penuh dengan genangan air.

Visi ‘alat perjuangan’ masih tetap disuarakan oleh PSSI sebagai visi bersama yang layak diusung hingga saat ini. Fenomena ini semakin kental bernuansa kedaerahan dengan tersebarnya klub-klub sepakbola di seluruh nusantara Indonesia. Bentuk klub perserikatan yang diadopsi di Indonesia menyebabkan hampir seluruh klub sepakbola di Indonesia ‘diasuh’ oleh Pemda/Pemkot/Pemkab setempat. Metode anak asuh berfungsi untuk menopang pembiayaan dan pembinaan klub sepakbola. Kondisi ini berefek kepada kepada manajemen klub, dimana hampir seluruh klub yang berada dalam naungan Pemda/Pemkot/Pemkab dipimpin oleh kepala daerahnya sendiri. Secara financial keberadaan klub ini didukung nyaris 100% oleh APBD setempat. Dalam waktu berjalan, keberadaan dan kebutuhan klub menjadi semakin nyata. Terutama dalam kompetisi sepakbola nasional, dimana terjadi gengsi kedaerahan yang dipimpin oleh masing-masing kepala daerah. Tentunya sebagai pimpinan daerah merangkap pimpinan klub mempunyai tanggung jawab untuk dapat menghantarkan prestasi terbaik bagi instittusi yang dipimpinnya, dalam hal ini klub sepakbola.

Bagi insan politik/pemerintahan mengeluarkan sejumlah materi untuk dapat memperoleh prestasi dan gengsi adalah wajar. Milyaran rupiah yang digelontorkan tidak menjadi masalah untuk membangun sebuah tim yang powerfull untuk dapat menuju tangga juara. Namun pengeluaran yang besar itu tidak berjalan lurus dengan prestasi di kancah internasional, bahkan keuntungan langsung bagi klub sebagai entitas pelaku kompetisi tidaklah terlalu dirasakan. Idealnya tim juara akan mendapatkan sejumlah advantage di kemudian hari apabila timnya meraih prestasi, entah itu berkembangnya jumlah supporter, keuntungan dari pemasukan tiket pertandingan home, penjualan merchandise, pemasukan sponsor, dll. Namun fenomena ini tidaklah terjadi di Indonesia. Memang jumlah supporter setiap tahun meningkat, dan jumlah penggemar sepakbola semakin gandrung dari hari ke hari. Namun hasil keuntungan dari pemasukan tiket pertandingan home tidaklah terjadi. Pemerintah bukannya mencoba untuk menjadikan klub sebagai entitas mandiri namun malah memanjakan klub dengan menggelontorkan dana yang un-limited. Motifnya tentu untuk menyenangkan rakyat daerahnya, dengan menonton pertandingan sepakbola dengan dana yang sedikit, dengan kemungkinan klubnya menjadi juara akan menambah eforia, kesenangan serta kepercayaan rakyat kepada pimpinan daerahnya. Maka tak heran, jika sepakbola digunakan sebagai sebuah alat kepentingan bagi kepala daerah yang notabene klub sebagai kendaraan politiknya untuk dapat menyenangkan rakyatnya melalui hiburan rakyat yaitu sepakbola. Semata-mata untuk kepentingan politis ke depannya yaitu Pemilu atau Pilkada.

Visi ‘alat perjuangan’ tentunya layak dipertanyakan saat ini, apa yang diperjuangkan?  dan apa yang dipersatukan? Apakah memperjuangkan kepentingan golongan ataukah mempersatukan motif keuntungan ekonomi dengan menerima dana hibah dari sector APBD tanpa ada hasil dan prestasi yang menjanjikan serta pertanggungjawaban keuangan yang tidak akuntabel dan transparan. Ataukah memperjuangkan makna sesungguhnya dari sepakbola itu sendiri?, yang notabene memiliki banyak penafsiran dari masing-masing personal. Jadi tidak heran kiranya banyak orang mempertanyakan kemana sebenarnya arah sepakbola nasional kita akan bergerak dan melaju. Apakah mungkin kita berkiblat kepada amerika latin yang mampu menelurkan bakat-bakat muda dengan talenta besar. Ataukah sepakbola Indonesia lebih dekat kepada filosofi sepakbola industry yang memang telah menjadi (bukan sekedar) trend namun juga kebutuhan untuk meningkatkan kualitas para entitas pelaku sepakbola?

Dengan visi saat ini maka tidak salahlah jika sepakbola Indonesia memang tertinggal 20 tahun dari peradaban sepakbola dunia. Mainstream sepakbola Indonesia tidak ditunjang dengan sebuah system yang memungkinkan visi 2020 milik PSSI sanggup direalisasikan sepenuhnya. Jika PSSI tidak mau mendengar dan melihat kondisi sekelilingnya, bukan tidak mungkin kita akan tertelan oleh peradaban sepakbola modern dan hanya akan terus memainkan sepakbola sebagai sebuah permainan hiburan rakyat.

to be continued…


Penulis adalah :
Professional dalam bidang perbaikan sepakbola Indonesia
Nama Asli dan Contact Person ada Pada Redaksi



Tambahkan halaman ini ke dalam situs social bookmarking favorit anda
Reddit! Del.icio.us! JoomlaVote! Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Yahoo! Free social bookmarking plugins and extensions for Joomla! websites!
 
Tingkat Kepercayaan Anda Terhadap Tokoh Tokoh Di Bawah Ini Untuk Memimpin Indonesia ?
 
Banner
Banner

Pesan-Pesan

Bengkel Ekonomi & Politik Dr.Rizal Ramli

 

10 Tahun Krisis Ekonomi Solusi Monetaris dan Neoliberal

yang menyerang kawasan tersebut sepuluh tahun lalu. Krisis mata uang yang awalnya menyerang Thailand telah berdampak sangat buruk terhadap ekonomi empat negara Asia yaitu Malaysia, Korea, Indones...

 

Mafia Berkeley : Kegagalan Indonesia Menjadi Negara Besar di Asia

Nyaris tidak ada kasus sejenis di dunia, dimana satu kelompok ekonom berkuasa selama hampir 40 tahun nyaris tiada henti dari 1966-2006, menentukan strategi dan kebijakan ekonomi suatu negara. Indonesi...
Jumlah Kunjungan Konten : 272265
Terdapat 3 Tamu online
Banner