Duaberita - Release Album Gesang , Karya Emas Yang Dirayakan dalam halal bi halalnya pada 19 Oktober 2008 yang dimulai pada pukul 18.30 bertempat di Hailai Executive Club Sekaligus HUt Ultah Gesang yang ke 91 .
RILIS ALBUM - GESANG MARTOHARTONO : VCD & DVD karaoke
“Karya Emas GESANG”
Apakah mungkin seseorang masih bisa aktif berkarya pada usia 90 tahun?
Tentunya selama ini orang tidak mengira bahwa pada usia senja seseorang
masih bisa aktif menyanyi dan membuat video klip.
Gesang telah berhasil membuktikannya lewat album terbarunya ”Karya Emas
Gesang” yang selesai direkam pada saat Gesang berusia 85 tahun dan
selesai dishooting video klipnya pada usianya yang menjelang 91
tahun.Karena menyesuaikan dengan kondisi kesehatan Gesang pada saat itu,
pengambilan gambarnya pun di cicil 1 – 2 jam per hari, KRT. Hendarmin
Susilo selaku produser bersama crew syuting pun harus rela 3 kali
bolak-balik Jakarta Solo untuk menyelesaikan proses syuting ini.
Sungguh merupakan prestasi yang membanggakan, tapi tidak hanya sampai di
situ saja, album ini juga memiliki keistimewaan yang belum pernah ada di
album-album keroncong Indonesia sebelumnya, karena di album ini, Gesang
sebagai pencipta lagu menyanyikan sendiri semua lagu ciptaannya, yang
juga mengukuhkan dirinya sebagai penyanyi tertua (85 tahun) yang masuk
dapur rekaman versi Museum Rekor Indonesia (MURI) tahun 2003. Bahkan
beliau pun selesaikan shooting video atas lagu-lagu yang dibawakan
tersebut, pada usia menjelang 91 tahun.
Sepanjang hidupnya Gesang telah menciptakan 44 lagu. Sebagai sosok yang
melankolis, Gesang mudah tersentuh oleh keadaan di sekitarnya, yang
kemudian dituangkan ke dalam lirik lagu, seperti dalam lagu pertamanya
yang diciptakan pada tahun 1938 “Si Piatu” yang diinspirasikan dari
kehidupannya sendiri yang kehilangan ibunda tercinta pada usia 5 tahun.
Begitu pula dengan lagu “Bengawan Solo” yang tercipta pada tahun 1940
yang melegenda, kekagumannya terhadap kemegahan sungai Bengawan Solo,
yang sangat berbeda di musim hujan dan kemarau, sebagaimana
diungkapkannya dalam syair lagu “musim kemarau tak s'brapa airmu, di
musim hujan air meluap sampai jauh”.
Yang teristimewa dari sekian banyak karya Gesang, adalah lagu “Sebelum
Aku Mati” yang diciptakan pada tahun 1963. Karena beliau sangat sering
sekali mendengarkan pidato Bung Karno melalui siaran radio RRI pada
waktu itu, dengan rasa kagum dan kesan yang sangat mendalam ia
terinspirasi membuat karya abadi ini. Berikut kutipan syairnya ;Sekali
ku hidup sekali ku mati, Aku dibesarkan di bumi pertiwi, Akan
kutinggalkan warisan abadi, Semasa hidupku sebelum aku mati. Lambaian
tanganku panggilan abadi, Semasa hidupku sebelum aku mati. Yang
sesungguhnya mencerminkan cita-cita dan jati dirinya.
Selain itu, pada lagu “Pamitan” yang diciptakannya pada tahun 1971,
menunjukan jiwa dirinya karena harus merelakan kekasihnya pergi, dan
mendoakan semoga mendapat jodoh yang lebih baik, namun ia tak kan rela
apabila kemudian ternyata kekasihnya di sia-siakan.
Oleh karena itu, sebagai bentuk apresiasi terhadap Gesang sang legenda,
PT Gema Nada Pertiwi (GNP)mempersembahka n album “Karya Emas Gesang”yang
diproduksi dalam bentuk VCDdanDVD
Serial “Karya Emas Gesang” yang sangat istimewa ini terdiri atas 2
album, yang total berisikan 24 lagu karya yang sebagian besar telah
melegenda, seperti “Bengawan Solo”, “Jembatan Merah”, “Sebelum Aku
Mati”, “Pamitan”, “Caping Gunung”dan lain-lain. Dalam album ini juga
diramaikan oleh beberapa bintang tamu seperti Waldjinah, Mus Mulyadi,
Sundari Soekotjo, Tuti Maryati, Iin, Asti Dewi C, Melani Tunas dan juga
almarhum Farid Hardja.
Didalam album ini ada 2 lagu yang memiliki keistimewaan tersendiri, yang
pertama adalah lagu “Tembok Besar” yang diciptakan pada tahun 1963. Pada
awal 1960-an ia bersama Delegasi kesenian Indonesia di undang ke RRC
dalam rangka pertukaran kebudayaan, dan sempat mengunjungi serta mendaki
Tembok Besar yang sangat tersohor itu, sebagai kekagumannya atas
kemegahan Tembok Besar, maka beliau terinspirasi membuat lagu ini. Lagu
ini dinyanyikan dalam 2 versi (Indonesia dan Mandarin). Gesang
menyanyikannya dalam bahasa Indonesia berduet dengan Iin yang
menyanyikannya dalam versi bahasa Mandarin, yang mana syair Mandarinnya
dibuat oleh Ibu Hendarmin Susilo.
Khusus pada lagu “Bengawan Solo” yang sudah sangat melegenda dan
mendunia, selain Gesang yang menyanyikannya dalam versi keroncong asli,
lagu ini juga dinyanyikan oleh Melani Tunas dalam bahasa Mandarin dengan
iringan musik keroncong, dan tak kalah uniknya Lagu Bengawan Solo ini
juga dinyanyikan oleh Tuti Maryati, bahkan dalam versi Sunda dengan
iringan musik degung.
Semoga album ini dapat menjadi penyambung pesan Gesang yang kerap beliau
ucapkan kepada siapa saja, bahwa ”Jangan sampai keroncong mati....!”
Seperti telah disampaikan oleh Fauzi Maketing Promotion Album Gesang . (/aby)











