Menurut Koordinator pengamatan hama dan bencana pada Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjarnegara Aris Widiyanto, tanaman yang mengalami busuk daun seluas 89 hektar terjadi di tiga Kecamatan yaitu Batur, Pejawaran, dan Wanayasa. Terperinci, 39 hektar di Batur, 42 di Pejawaran dan 8 hektar di Wanayasa. Dengan tingginya intensitas hujan yang terus terjadi diperkirakan akan terus meluas. Apalagi, ketiga kecematan tersebut merupakan daerah endemis. ''Di tiga kecamatan tersebut busuk daun merupakan daerah endemis. Hujan yang terus terjadi membuat lingkungan di sana sangat cocok untuk perkembangbiakan spora penyebab busuk daun,'' jelas dia.
Hama penyakit ini, lanjut dia, sulit dikendalikan menggunakan pestisida. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dengan melakukan pencegahan dengan menciptakan moretan (mikorba rekan petani). Moretan ini sebagai penghambat bakteri/spora penyebab penyakit. Oleh beberapa ahli nama kelompok bakteri itu dikenal dengan sitilah plant growth promoting rhizozabacteria (PGPR) atau bakteri perakaran pemacu pertumbuhan.
''Di sekitar kita banyak mikoroba tanah yang menguntungkan. Seperti rhizobium, azotobacter, azosprilliun untuk penbambah nitrogen, dan bacillius plymixa, pseuforescesns dan striata sebagai pelarut phosphat. Apabila kita mau bakteri itu bisaÂ
dibikin karena bahan-bahannya banyak terdapat di sekitar kita,'' kata Aris Widiyanto.
Cara membuat moretan dengan bahan yang banyak terdapat di sekitar kita, yakni serabut rumput gajah dan bambu. Caranya, serabut itu direndam selama 2 - 4 hari dalam air satu liter masak yang telah didinginkan. Kedua membuat air perasan dari berbagai adonan bahan nutrisi yang terdiri gula pasir, terasi, dedak halus, penyedap rasa.Â
''Adonan bahan nutrisi itudirebus sampai mendidih dan dibiarkan selama 15-20 menit. Setelah adonan ini dingin kemudian dicampurkan dengan air rendaman serabut gajah atau bambu. Diamkan selama tujuh hari, dengan catatan dua hari sekali adonan dibuka dan aduk. Setelah tujuh hari adonan ini diperas dan diambil airnya untuk disiramkan atau semprot ke tanaman kentang. Adapun aampasnya bisa digunakan kompos,'' jelasnya
.
Manfaat dari moretan ini, kata dia, selain mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri penyebab penyakit, juga bisa menguraikan bahan oragnik, mengeluarkan cairan yang mampu melarutkan mineral. Namun demikian, kata dia, para petani masih enggan untuk menggunakan cara ini dalam menanggulangi penyakit. ''Petani masih senang memilih dengan berbagai pestisida karena dirasa lebih praktis. Karena itu kami sedang berusaha untuk mensosialisasikan terus,'' katanya. (/pray)











