duaberita-Purbalingga-Menjelang selesainya pembangunan pasar induk Purbalingga (Jateng), Pemkab melakukan studi banding ke Pasar Bumi Serpong Damai BSD) di Tangerang, Banten. Rombongan yang dipimpin Bupati Triyono Budi Sasongko berangkat Selasa malam (18/11). Ikut dalam rombongan, Sekda Subeno, Asisten II Sekda Bambang DS, Kabag Perekonomian Agus Winarno, Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop), serta 22 pedagang pasar dan dua pedagang kaki lima (PKL).
“Pasar BSD dipilih sebagai sasaran studi banding karena itulah pasar tradisional dengan sentuhan modern,” tutur Kabag Perekonomian Setda, Agus Winarno, Selasa (18/11).
Menurut Agus, yang membedakan pasar dan tradisional dan modern, yakni pada pasar tradisional pembeli bertatap muka langsung dengan pembeli dan memungkinkan terjadinya tawar menawar. Selain itu, komoditas yang dijajakan merupakan milik sekumpulan pedagang. Sedang pasar modern, pembeli memilih sendiri barang yang hendak dibeli, dan membayarnya di kasir tanpa bisa menawar. Ciri pasar modern juga seluruh barang dagangan itu merupakan jualan satu orang atau kelompok. Perbedaan lain, lanjut Agus, yang tradisional selalu dikesankan semrawut, becek, kumuh dan bau. Yang modern biasanya nyaman, bersih, aman.
“Pemkab Purbalingga ingin nantinya pasar induk tetap menjadi pasar tradisional tapi dengan suasana pasar modern,” ujarnya. Yang dipelajari pada pengelolaan pasar BSD, yakni manajemen yang meliputi keamanan, kebersihan, ketertiban dan kesararan pedagang serta pembeli. Mengenai kesadaran yang menonjol di lingkungan pedagang di BSD, yakni pedagang dengan inisitatif sendiri membayar retribusi berkala ke sebuah loket bank yang di kompleks pasar itu.
Walhasil, tidak ada petugas yang mutar-mutar di seluruh penjuru pasar untuk memungut setoran retribusi. “Pasar BSD juga sudah ditetapkan sebagai model pasar tradisional oleh Menteri Perdagangan. Pemkab yang hendak studi banding mengenai manajemen pasar disarankan ke pasar BSD itu,” ujar Agus.(/pray)











