Dari berbagai usulan perwakilan kelas, akhirnya disepakati hanya empat paket calon pasangan yang akan bertarung. Laiknya sebuah pesta Pilkada secara umum, para calon tersebut diberikan waktu selama dua hari untuk melakukan kampanye di dalam lingkungan sekolah. Berbagai posterpun disebar disetiap sudut-sudut sekolah untuk meyakinkan para siswa lainnya.
Para calon pemimpin itu diberikan kesempatan untuk menyampaikan visi misinya di depan para siswa yang berjumlah sekitar 350 orang itu. Setelah pembacaan visi misi, maka siswa lainnya diberikan kesempatan untuk memberikan hak suaranya. Panitia pun membawa kotak suara disemua kelas yang ada dan para calon juga hadir untuk memperkenalkan diri di depan siswa.
Setelah diadakan pemungutan suara, maka kotak suara dikumpulkan dalam satu tempat dan panitia melakukan perhitungan ulang dan disaksikan langsung oleh perwakilan masing-masing kelas. Cara ini ditempuh agar pemilihan itu tidak mengganggu proses belajar mengajar.
Apa yang terjadi dan dilakukan oleh para siswa, sesungguhnya merupakan salah satu bentuk pengenalan bagaimana proses demokrasi berlangsung. Mereka sudah diberikan pemahaman berpolitik, apalagi sistem pemberian hak suara dilakukan dengan mencontreng, seperti sistem yang dilakukan oleh KPU saat pemilu 2009 mendatang. (/bams)











