Penjualan buku paket tersebut ditemukan di salah satu sekolah unggulan, yakni SMAN 1 Pangkajene Pangkep. Hal itu diperkuat dengan pengakuan salah satu orang tua siswa bernama Muhammad Said kepada duaberita. Menurutnya, penjualan buku itu tidak secara langsung dilakukan oleh guru, tetapi melalui tangan ketiga yakni koperasi sekolah.
Koperasi tersebut yang menyediakan buku paket dari semua pelajaran. Namun dari berbagai buku yang diberikan kepada duaberita, secara dominan buku tersebut didominasi oleh satu penerbit saja yakni Erlangga. Di dalam buku paket juga tertera stempel koperasi sekolah.
Menurut pengakuan bapak enam anak ini yang sekarang tercatat sebagai karyawan PT Semen Tonasa, setiap tahunnya pihaknya mengeluarkan uang buku berkisar Rp 500.000. Ironisnya menurut bapak ini, buku yang dibeli tersebut tidak berlaku untuk pemakaian tahun ajaran berikutnya. Diapun menyayangkan adanya program pendidikan gratis namun penjualan buku paket masih marak di Pangkep.
Penjualan buku tidak hanya terjadi pada sekolah yang berstatus unggulan di Pangkep. Tetapi beberapa sekolah lain juga melakukan hal yang sama. Seperti pengakuan salah seorang siswa kelas X, Andriani, salah seorang siswa di SMAN Bungoro Pangkep kepada duaberita. Menurutnya, penjualan buku itu dikelola oleh koperasi dan didistribusikan kepada siswa. Pembelian buku tersebut menurut dia adalah kewajiban yang diberikan oleh masing-masing guru bidang studi. Hampir semua pelajaran disediakan buku paket yang harus dimiliki oleh siswa. (/bams)











